Kredit Baru di Cina Meningkat, Inflasi Berpotensi Naik (update 1)
Tuesday, February 9th, 2010 13:19:31 |
Save as PDF
Perbankan Cina kemungkinan meningkatkan pemberian kredit baru di Januari jika dibandingkan dengan tiga bulan yang lalu hal ini agak berlawanan dengan rencana pemerintah yang cenderung akan menekan pemberian kredit karena cenderung naiknya pertumbuhan inflasi.
Total pemberian kredit baru di Cina untuk bulan Januari tercatat sebesar 1,38 triliun yuan setara dengan $201 milar, menurut rata-rata perkiraan ahli ekonomi Bloomberg. Menurut rencana data tersebut akan dirilis dalam minggu ini. Harga-harga konsusmsi juga diperkirakan akan mengalami kenaikan sejak 2008 dan export juga menunjukan kenaikan cukup signifikan.
Pihak pemerintah saat ini tengah mencari jalan untuk menekan laju pertumbuhan kredit yang mengalami kenaikan cukup signifikan pada tahun yang lalu karena hal ini telah ikut mempengaruhi kenaikan di pasar properti Cina. Dari hasil data-data ekonomi yang telah dan akan dirilis terbuka kemungkin untuk pemerintah menaikan interest rates atau meng-apresiasi nilai tukar yuan dalam beberapa bulan mendatang dan hal ini tentu akan berpotensi menimbulkan gejolak diseluruh kawasan Cina.
Analis dari Royal Bank of Canada di Hong Kong Brian Jackson seorang pengamat ekonomi negara-negara berkembang menilai ada serangkaian kebijakan yang agresif yang akan diambil oleh pemerintah Cina termasuk menaikan interest rates ataupun melakukan apresiasi nilai tukar yuan agar supaya ekonomi berjalan tetap pada jalurnya.
Pada saat yang sama tekanan kenaikan harga-harga juga tidak terelakan apalagi negara ini saat ini merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia setelah AS. Aluminium Corp of China Ltd perusahaan negara yang memperoduksi metal terbesar pada 4 januari yang lalu telah menaikan harga jual produknya untuk yang ketiga kalinya dalam lima bulan. Beijing Brewery Co pada 15 januari yang lalu juga telah menaikan harga jual beer-nya sebesar 10 persen, semua disebabkan oleh naiknya biaya bahan bakar dan beras.
“Tekanan inflasi saat ini berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi Cina dimana baik dari tingkat produsen maupun konsumen menunjukan adanya kenaikan harga-harga,” kata Kevin Lai ekonom dari Daiwa Institu of Research yang berbasis di Hong Kong. ” Bank Sertal Cina harus mengambil langkah-langkah yang agresif, dimana pemerintah Cina harus menaikan interest rates-nya sesegera mungkin.
Harga konsumsi kemungkinan akan bertumbuh sebesar 2,1 persen di Januari on year kenaikan ini merupakan yang ketiga kalinya, menurut estimasi Bloomberg. Harga produksi kemungkinan akan naik sebesar 3,5 persen menurut survei. Pertumbuhan uang beredar M2 kemungkinan akan melambat untuk yang kedua kalinya dan berada dilevel 25,9 persen menurut hasil proyeksi.
Sementara itu untuk kawasan regional inflasi juga menunjukan tanda-tanda kenaikan terutama di Korea Selatan dan Vietnam terutama yang dipicu oleh naiknya harga komoditi dan harga makanan. Negara-negara seperti Korea Selatan, India, Indonesia, Thailand, Malaisia, Taiwan dan Filipina belum menaikan interst rates-nya karena khawatir terjadi penguatan dalam nilai tukar mata uangnya.
Di Cina sendiri otoritas moneternya telah mempertahankan nilai tukar mata uangnya terhadap USD diharga 6,83 per dolar sejak Juli 2008 untuk menorong meningkatnya export. Cina mungkin akan melakukan apresiasi terhadap mata uangnya di kuartal ini dan hal ini akan membuat nagara-negara di kawasan Asia lainya meresa lebih nyaman, kata RBC Jackson.
Export kemungkinan akan naik sebesar 28 persen untuk bulan Januari dan import naik 85 persen dan menjadi surplus perdagangan meningkat sebesar $20 miliar, menurut survei Bloomberg.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal yang lalu tercatat sebesar 10,7 persen on year tertinggi sejak 2007, hal ini merupakan dampak kucuran kredit yang dikucurkan senilai 9,59 triliun yuan.
Estmasi kredit baru di Januari mencapai 48 persen lebih tinggi dari total kredit yang dikucurkan dalam tiga bulan terakhir di 2009. Nilai tersebut setara dengan 18 persen dari total kredit yang akan dikucurkan pada tahun ini sebesar 7,5 triliun yuan yang dicanangkan oleh pemerintah.
Poly Real Estate Group Co perusahaan properti terbesar kedua di Cina kemarin melaporkan penjualan properti di Januari mengalami kenaikan sebesar 142 persen on year.
“Secara hurufiah ada triliunan reminbi yang telah dikucurkan dan potensi kredit macet juga telah terfaktorkan dan tiba saatnya masalah tersebut dikalkulasi, kata Neil McDonald seorang business restructuring and insolvency partner yang bermarkas di Hong Kong.
Bank Sentral Cina beberapa waktu yang lalu telah meminta perbankan untuk meningkatkan CAR-nya. Dan beberapa bank telah mulai melakukan pembatasan kredit. (Bloomberg)
HALAMAN AWAL
TENTANG KAMI
PRODUK
FAQ
KONTAK




